Pestisida Drone Sprayer

     Pestisida Drone Sprayer




Dalam proses pertanian kita pasti mengenal apa itu Pestisida, tujuan dari penggunaan pestisida ialah menekan atau mengurangi populasi jasad pengganggu sasaran (hama, penyakit, dan gulma) hingga di bawah batas nilai ambang ekonomi, tanpa menimbulkan dampak yang merugikan seperti antara lain : terjadi resistensi, resurgensi, keracunan tanaman pokok dan pencemaran lingkungan. Keberhasilan penggunaan Pestisida sangat ditentukan oleh teknik aplikasi yang tepat, yang menjamin Pestisida tersebut mencapai jasad sasaran dimaksud. Selain itu, keberhasilan juga dipengaruhi oleh faktor jenis, dosis dan saat aplikasi yang tepat. Dengan kata lain, tidak ada Pestisida yang dapat berfungsi dengan baik kecuali bila aplikasi dengan tepat. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian OPT secara kimiawi atau menggunakan Pestisida adalah menggunakan Pestisida yang telah terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian serta membaca petunjuk penggunaan Pestisida yang tertera pada label.

Aplikasi Pestisida tergantung dari tujuan pengendalian, jenis OPT sasaran, tanaman dan produk tanaman yang akan dilindungi, lingkungan sekitar wilayah yang akan diberi aplikasi Pestisida, serta cara kerja dan bentuk formulasi Pestisida. Cara pengaplikasian Pestisida salah satu nya adalah cara Penyemprotan, aplikasi dengan cara penyemprotan merupakan cara aplikasi yang paling banyak dilakukan oleh petani. Agar pengendalian OPT dengan cara penyemprotan Pestisida dapat berhasil baik, maka selain menggunakan jenis Pestisida dengan dosis dan waktu yang tepat, juga diperlukan alat aplikasi yang efisien. Alat aplikasi atau alat semprot yang efisien dapat menjamin penyebaran bahan/ campuran semprot yang merata pada sasaran dan tidak menimbulkan pemborosan. Cairan yang disemprotkan dapat berupa larutan, emulsi atau suspensi.

Dalam pemeliharaan tanaman, pengaplikasian pestisida dirasa kurang efektif jika hanya menggunakan tenaga manusia. Diperlukan waktu yang cukup lama dan tenaga kerja yang cukup banyak untuk melakukan penyemprotan pestisida. Biaya input pertanian pun menjadi lebih tinggi. Selain itu, penyemprotan pestisida menggunakan tenaga kerja manusia akan mempengaruhi kesehatan mereka. Residu pestisida yang terhirup oleh mereka akan berdampak negatif terhadap kesehatan mereka. Dalam pengaplikasian pestisida diperlukan kesadaran dan perlengkapan keselamatan kerja yang tinggi untuk dapat meminimalisir dampak negatif pestisida jika terjadi kontak secara langsung. Menurut Sulistyoningrum (2008) pestisida tidak boleh terkena kulit secara langsung, terhirup atau pun mengenai mata manusia karena pestisida mengandung bahan kimia yang berbahaya. Kecelakaan akibat pestisida yang dialami dapat berupa pusing ketika sedang menyemprot maupun sesudahnya, muntah-muntah, mulas, mata berair, kulit terasa gatal gatal dan menjadi luka, kejang-kejang, pingsan, dan tidak sedikit kasus yang berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, pengembangan teknologi di bidang pertanian khususnya tentang pengaplikasian pestisida sudah semakin berkembang. Contohnya penyemprotan pestisida menggunakan drone. Penggunakaan drone di bidang pertanian dapat memberikan banyak manfaat khususnya dalam efisiensi waktu, mengurangi biaya input pertanian, dan juga meminimalisir dampak negatif terhadap kesehatan bagi para petani. 


Pertanian pintar 4.0 berbasis kecerdasan buatan menjadi unggulan yang dicanangkan Kementerian Pertanian. Smart farming 4.0 mendorong petani untuk bekerja lebih efisien, terukur, dan terintegrasi. Melalui teknologi, petani mampu melakukan praktek bertani dengan mengandalkan mekanisasi, bukan musim tanam, dari tanam hingga panen secara akurat. Beberapa teknologi pertanian pintar seperti blockchain untuk pertanian off farm modern, penyemprot drone agribisnis, pengawasan drone (drone untuk pemetaan tanah), sensor tanah dan cuaca, sistem irigasi cerdas, Ruang Perang Pertanian (AWR), siscrop (sistem informasi) 1.0 telah dikembangkan dilaksanakan di beberapa daerah. Namun, petani menghadapi berbagai latar belakang pendidikan, fenomena penuaan petani, dan mahalnya alat teknologi pertanian pintar untuk menerapkan pertanian pintar.


Perancangan mekanik bertujuan untuk membuat rancangan bentuk alat yang akan dibuat, bentuk dari sistem mekanik drone seperti yang ditunjukkan pada gambar 2 di bawah ini. Dalam gambar tersebut terlihat sistem mekanik keseluruhan, dalam pembuatan sistem mekanik ini digunakan frame F550 berbahan fiber sebagai kerangka drone dengan motor brushless sebagai penggerak propellers. Drone menggunakan enam buah motor brushless pada frame. Penggunaan enam lengan pada frame (hexacopter) bertujuan sebagai penambah daya angkat pada UAV yang memiliki total payload ataupun beban yang di angkat kurang lebih sekitar 2,5 kg.

 

Gambar 8. Sistem Mekanik Keseluruhan

Keterangan gambar sesuai nomer :

1.      Flight Controller.

2.      Motor Brushless.

3.      Propeller.

4.      GPS.

5.      Baterai.

6.      Arm Frame.

7.      Pestisida Tank.

8.      Landing Gear.

9.      Pompa DC.


Beberapa   komponen   yang akan   digunakan   dalam perancangan ini yaitu :

  1.  Flight Controller Naza-M V2.

  2. Motor Brushless SunnySky X2212 KV980 II (6 unit).

  3.  Electronic Speed Control Hobby Wings Sky Walker 30A (6 unit).

  4.  Propeller Carbon 10x4,5 inch (6 unit).

  5. Baterai Li-po Gens Ace 2200mAh.

  6. Transmitter and Receiver DJI 2.4G DATALINK.

  7. Global Positioning System DJI NAZA.

  8. Tangki Pestisida ±1liter.

  9. Arduino Nano v3.0 (ATMega328P).

  10. Pompa DC 6V.

  11. Sensor Ultransonic HC-SR04.

  12. Landing Gear.

Pengujian luas area merupakan pengujian yang dilakukan untuk pemetaan serta melihat waktu penyemprotan di area yang memiliki luas tertentu. Pengujian pemetaan ini dilakukan dengan menggunakan software Universal Ground Control Software.


Gambar 14


Gambar 15


Gambar 14 merupakan tampak hasil mapping mode area scan dengan menggunakan Universal Ground Control Software. Hasil mapping tersebut akan dilalui oleh drone secara autonomous flying dengan luas area 3 x 2 meter. Pada sudut kanan monitor terdapat tampilan informasi mengenai voltase baterai, status GPS serta AGL dan AMSL yang tampak lebih jelas pada Gambar 15.

Adapun lama waktu yang dibutuhkan drone untuk melalui area seluas 3 x 2 meter yaitu 29 detik dengan kecepatan drone yang diatur saat melalui area yaitu 0.50 m/s untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 16 dan Gambar 17.

Gambar 16


Gambar 17


Berdasarkan hasil pengujian dan data yang diperoleh maka dapat dianalisis bahwa dengan kapasitas baterai 2200mAh drone dapat terbang selama kurang lebih 3 menit 46 detik ketika tidak ada beban dan ketika drone berbeban maka drone hanya dapat terbang selama kurang lebih 1 menit 45 detik. 

Pada penelitian ini flight controller yang digunakan adalah DJI Naza-M V2, flight controller ini bekerja dengan sangat baik karena drone sangat stabil ketika di terbangkan, dan beberapa percobaan yang dilakukan seperti return home and landing, autolanding dan hold position berhasil dengan sangat baik.


Untuk penyemprotan bekerja dengan baik namun karena nozzle yang digunakan kurang tepat sehingga hasil penyemprotan menjadi kurang maksimal dan untuk melakukan pemetaan dan penyemprotan terhadap area yang diinginkan maka perlu dilakukan mapping terlebih dahulu, pada penelitian ini untuk melakukan mapping dan perintah autonomous flying digunakan software UGCS (universal ground control software) dan perangkat telemetri DJI Datalink sebagai penguhubung drone dengan pc atau laptop, pada software UGCS hampir semua informasi seperti voltase baterai, kekuatan sinyal GPS dan beberapa hal lainnya sudah tersedia sehingga autonomous flying lebih aman namun sofwatre UGCS tidak dapat melakukan autonomous flying pada drone untuk ketinggian terbang drone di bawah 5 meter sehingga penyemprotan yang dilakukan menjadi kurang maksimal terhadap tanaman padi.



DAFTAR PUSTAKA

Dadang. 2019. Formulasi Pestisida untuk Drone disampaikan pada Seminar Nasional Penggunaan Drone dalam Bidang Perlindungan Tanamandalam Rangka menuju Industri Pertanian 4.0 di Indonesia. 5 Agustus 2019, Bogor (ID): ISSAAS Indonesia Chapter Vol 1 (1) 2019: 87–91 Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat

Ilham M. 2018. Sistem Kendali Pompa Pestisida nirkabel pada drone. [Tugas Akhir]. Makassar (ID) : Politeknik Ati Makassar

Irawaty E, daniel, Achmad M. 2017. Analisis biofisik tanaman padi dengan citra drone (UAV) menggunakan software Agisoft Photoscan. Jurnal Agritechno. Jurnal Agritechno. 10(1):109-122

Su ASM, Mazlan N, Ya NNC, Ilahi WFF. 2017.Teknologi aplikasi dron untuk pertanian. Dalam: Persidangan Kebangsaan Pemindahan Teknologi 2017 (Confertech). Hotel Berjaya Waterfront, Johor, 14-16 November 2017

Rahmat Hidayat. 2019. Rancang Bangun Prototype Drone  Penyemprot Pestisida Untuk Pertanian Padi Secara Otomatis. Jurnal Tektro, Vol.3, No.2, September 2019


ANGGOTA KELOMPOK :   

Aldwin Lutffattan Mausoof (1101213200)

Novi Ayu Vatmawati (1101210410)

RR MEIDITA THIFAL LELYTA ( 1101213060)

Muhamad Hazbi Ashiddiqi (1101210070)

Iqratul sarjono (1101213310

Comments

Popular posts from this blog

Layanan Contact Center Berbasis Voice-AI

pengaruh kemajuan teknologi terhadap perkembangan fitur gojek